Panduan lengkap budidaya jamur tiram untuk pemula: mulai dari persiapan media, pembuatan baglog, perawatan kumbung, hingga panen.
Budidaya jamur tiram menjadi salah satu usaha agribisnis yang semakin populer di Indonesia. Selain memiliki permintaan pasar tinggi, cara budidayanya pun relatif mudah dan dapat dilakukan pada lahan sempit. Jamur tiram juga disukai karena rasanya gurih, teksturnya lembut, dan bernilai gizi tinggi sehingga cocok untuk berbagai olahan kuliner. Hal inilah yang membuat budidaya jamur tiram menjadi peluang bisnis menarik bagi pemula maupun pelaku usaha yang ingin menambah penghasilan.
Persiapan Budidaya Jamur Tiram
Sebelum memulai budidaya, langkah pertama adalah memahami kebutuhan tumbuh jamur tiram, seperti suhu, kelembapan, dan pencahayaan. Lingkungan yang tepat akan membantu jamur tumbuh optimal dan menghasilkan panen berkualitas.
Kumbung adalah bangunan tempat pembesaran jamur. Kumbung biasanya dibuat dari bambu atau kayu dengan dinding yang mampu menjaga kelembapan. Idealnya, suhu kumbung berada pada kisaran 22–28°C dengan kelembapan di atas 80%. Ventilasi harus cukup agar sirkulasi udara baik tetapi tidak terlalu terbuka.
Baglog adalah media tanam jamur yang terbuat dari serbuk kayu, bekatul, kapur, dan air. Campuran tersebut dikemas dalam plastik silinder, kemudian dipadatkan dan diberi lubang tempat inokulasi bibit. Baglog harus disterilisasi menggunakan steamer atau drum pemanas selama 6–8 jam untuk membunuh bakteri dan jamur liar.
Proses Inokulasi dan Pemeliharaan
Setelah baglog disterilisasi, langkah berikutnya adalah inokulasi atau penanaman bibit jamur tiram. Proses ini harus dilakukan di ruang bersih dan steril agar jamur tidak terkontaminasi.
Inkubasi Baglog
Baglog yang telah ditanami bibit disimpan di ruang inkubasi selama 30–45 hari. Pada tahap ini, miselium akan menyebar dan menutupi seluruh media. Suhu ruangan inkubasi idealnya 25–30°C dan tidak membutuhkan cahaya.
Perawatan di Kumbung
Setelah miselium tumbuh sempurna, baglog dipindahkan ke kumbung. Tutup baglog dibuka agar jamur dapat tumbuh keluar. Kumbung perlu disemprot air secara berkala untuk menjaga kelembapan, tetapi hindari penyemprotan langsung ke baglog karena dapat menyebabkan busuk.
Panen dan Pascapanen Budidaya Jamur Tiram
Jamur tiram siap dipanen ketika tudung jamur mulai mekar namun belum pecah. Waktu panen biasanya 7–10 hari setelah baglog dibuka, dan satu baglog dapat menghasilkan panen berulang hingga 3–4 kali.
Jamur harus dipanen bersama bonggolnya dan dibersihkan sebelum dijual. Penyimpanan dilakukan di tempat sejuk agar jamur tetap segar. Jamur tiram dapat dipasarkan ke restoran, pasar tradisional, supermarket, hingga dijadikan olahan makanan.
Penutup
Budidaya jamur tiram merupakan usaha yang menjanjikan berkat kebutuhan pasar yang terus meningkat dan proses budidaya yang relatif mudah. Dengan persiapan media yang tepat, perawatan yang konsisten, serta manajemen usaha yang baik, siapa pun dapat memulai bisnis ini mulai dari skala rumahan hingga komersial. Dengan modal yang terjangkau, jamur tiram dapat menjadi sumber penghasilan yang stabil dan berkelanjutan.











